Ngapain Usaha??? Berat, Kamu Tak Akan Kuat! - Birru . Net

Ngapain Usaha??? Berat, Kamu Tak Akan Kuat!

Share This
Susan, Susan, kalau gede mau jadi apa? Masih inget lagu si Susan boneka lucu, imut, dan menggemaskan yang pintar banget ngomongnya?
   Sama seperti si Susan, waktu kecil sampai se-gede ini kita sering kali ditanya oleh guru, saudara, orang tua, kalau gede mau jadi apa. Bahasa kerennya cita-cita. Coba ingat-ingat kembali, kebanyakan dari kita pasti bilangnya ingin jadi tentara karena kesengsem dengan film Rambo. Ada juga yang terpesona dengan baju putih-putih di rumah sakit lalu berkeinginan jadi dokter atau suster. Ada yang baru naik pesawat kemudian melihat om-om pilot dan tante pramugari yang berparas gagah dan cantik lalu ingin menjadi pilot atau pramugari. Ada juga yang melihat pak Presiden di TV melambaikan tangan dengan wibawanya lalu berkeinginan menjadi Presiden. Coba ingat-ingat lagi, adakah dari teman-teman kita atau kita sendiri yang berteriak keras di waktu kecil "Aku ingin menjadi pengusaha!". Kalau ada, pastilah jarang sekali dan kemungkinan bapaknya merupakan pengusaha.


   Bagi sebagian besar orang muda, bisnis ibarat drugs yang harus dijauhi dan dihindari. Mendengar kata-katanya saja sudah membuat gigi meringis, dahi mengkerut, dan kepala menggeleng seperti didatangi wabah virus mematikan. Tapi, ada benarnya juga, kadangkala bisnis itu sama dengan drugs. Bagi yang mencoba bakalan ketagihan "Pake" terus, tidak mau berhenti karena tahu sensasi asyiknya yang dahsyat. Bedanya, kalau ketagihan drugs efeknya badan lemes nggak karu-karuan, pikiran muter nggak jelas arah tujuannya, dan parahnya produktivitas jadi nol besar seperti mayat hidup yang tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau ketagihan bisnis, beda perkaranya. Efeknya positif kuadrat, kubik, bahkan pangkat empat.Pikiran selalu fresh karena selalu dipakai untuk berfikir kreatif, dan badan jadi sehat karena ikut bergerak aktif. Yang paling asyik, makin tebel deh, kantong duit and kantong pahala karena selalu berkontribusi. Makanya, yang benar pake say no to drugs bukannya say no to business. Kalaupun masih ada orang muda yang masih tetap memegang teguh untuk say no to business,mungkin karena terkena Syndrome alasan dibawah ini:

Nggak Punya Modal (Don't Have Fund)

   Alasan sangat klasik yang sering dijadikan andalan adalah tidak mau memulai usaha karena tidak mempunyai modal. Coba deh, seandainya ada yang nanya "butuh modal berapa, sih?" Pasti kita gelagepan  karena memang belum pernah menghitung, hanya asal berbicara saja agar dimaklumi oleh yang lain. Kalau memang serius, maka tentukan terlebih dahulu mau usaha apa, lalu cari contohnya, kemudian hitung deh, berapa kebutuhannya. Nah, dari situ baru ketahuan butuh modal berapa. Kalau memang belum ada, coba cari pinjaman ke orang-orang terdekat. Ingat, pinjaman lho, bukan dana hibah (pemberian),jadi harus disepakati kapan dikembalikan. Lalu, yang paling penting mulailah dari yang sederhana dulu, seperti usaha yang modalnya masih kisaran puluhan sampai ratusan ribu.

Nggak Punya Ide Bisnis (Don't Have Any Business Idea)

   Bisakah, menyebutkan jenis usaha yang tidak bisa membuat pengusahanya jadi jutawan, bahkan miliarder? Semua usaha bisa membuat pengusahanya jadi jutawan, mulai dari usaha otomotif sampai sampah sekalipun. Kalaupun toh ada yang usahanya sama, tapi tidak sukses-sukses, berarti ada yang salah dengan pengelolaannya. Ini bukti kalau semuaide bisnis bagus dan kabar gembiranya dalam dunia usaha menyontek itu halal, bahkan dianjurkan untuk kebaikan bersama, hehehe. Jadi, cara menentukan ide bisnis yang mudah itu dengan cara mencatat semua ide bisnis yang kita ketahui di kertas kecil kemudian digulung lalu kocok mirip arisannya ibu-ibu itu, lho. Nah, kemudian ambillah salah satu. Selamat, Anda baru saja memilih ide bisnis yang mengantarkan Anda menjadi calon miliarder.

Nggak Ada Waktu (Don't Have Time)

   Weleh... weleh... ini dia alasan orang yang merasa sibuknya bukan main (sibuk minta ampun). Kita hitung-hitungan sebentar, yuk!? Sehari kita diberi modal 24 jam tidak ada diskon dan bonus, semuanya sama. Tapi, herannya ada yang diberi 24 jam itu bisa mengurusi negara. Ada juga yang bisa mengurusi perusahaan, bahkan beberapa perusahaan malah. Tapi, ada juga lho, yang tidak beres mengurusi diri sendiri (Semoga pembaca setia Birru.Net tidak termasuk kategori yang terakhir, Aamiin). Coba kita ingat-ingat lagi, waktu 24 jam kita dihabiskan untuk apa saja. 
  • Kuliah atau sekolah ditambah kegiatan ekstra paling lama 10 jam sehari, itupun termasuk perjalanan.
  • Istirahat, jika dengan standar bayi hanya 8 jam sehari.
  • Makan dan mandi mungkin hanya menghabiskan 1 jam.
  • Ibadah dan do'a 1 jam, deh.
Total masih 20 jam yang terpakai, sisanya 4 jam. Kalau mau 1 jam untuk hiburan, seperti : menonton TV, bermain game, hang-out dengan teman-teman, membaca buku, atau olahraga kegemaran Anda. Nah, dengan begitu masih ada 3 jam tersisa, bukan? Itulah waktu luang yang bisa dipakai untuk menjalankan bisnis. Jika dalam 1 bulan, berarti kita mempunyai waktu 3 jam x 30 hari = 90 jam. Pastilah ada waktu, bukan?

Nggak Ada Turunan Pengusaha (No Genealogy of The Entrepreneur)

   "Saya ini tidak ada keturunan pengusaha, mas. Jangankan skill usaha, tampang saja tidak menandakan seorang pengusaha." Kawan, jangan terlalu cepat bersedih apalagi menangis tersedu-sedu hanya karena tidak ada keturunan pengusaha. Ada fenomena yang menarik dalam dunia usaha, yaitu sebagian besar perusahaan keluarga punya siklus yang hampir sama. Siklus generasi pertama, biasanya inilah generasi yang merintis dari bawah dimulai dari kehidupan yang serba kekurangan, tapi punya tekad yang kuat untuk hidup lebih baik. Siklus generasi kedua adalah masa pengembangan. Karena sempat juga merasakan kesulitan dan perjuangan merintis usaha saat kecil, sifat pantang menyerahnya masih kental. Digabung dengan ilmu yangdidapat dari hasil sekolah dijenjang yang lebih tinggi ternyata mampu membuat usaha keluarga ini melesat lebih kencang. Siklus generasi ketiga, ini yang paling rawan. Mereka tidak sempat merasakan "kesusahan" karena sejak lahir sudah bergelimangan harta dan fasilitas. Akibatnya, rasa "semaunya sendiri" dan "pokoknya harus ada" itu muncul. Kalau tidak segera diperbaiki, maka dapat membawa kehancuran bisnis keluarga. Biasanya saat generasi ketiga inilah pengelolaan bisnis diserahkan kepada profesional. Yang menjadi catatan, memang masih ada bisnis keluarga yang sampai pada siklus generasi ketiga mampu bertahan, bahkan lebih berkembang, tapi itu semua bisa dihitung dengan jari. Nah, kawan, jika orang tua kita bukanlah pengusaha, maka inilah saatnya membuat sejarah emas baru dalam keluarga untuk menjadi keluarga pengusaha.

Nunggu Pinter Dulu (Wait to be Smart, First)

   Ada fenomena menarik, nih. Dalam dunia usaha, kebanyakan yang menjadi "Bos" pemilik usaha, tingkat pendidikannya tidak lebih tinggi daripada crew-nya, bahkan ada yang lebih rendah, hanya lulusan Sekolah Menengah Umum(SMU) saja. Ada juga "Bos" pemilik usaha ternyata pendidikan Sekolah Dasar(SD) pun tidak lulus, tapi punya karyawan sarjana, bahkan doktor pula. Ketahuilah kawan, kunci sukses usaha bukanlah terletak pada tingkat pendidikan, tapi pada tingkat kemauan dan waktu untuk menyegerakan memulai usaha. Yang paling penting betul itu semboyannya "kalau yang tidak lulus SD saja bisa sukses menjalankan usaha, apalagi yang lulusan SMU atau bahkan sarjana, hukumnya wajib harus lebih sukses bisnisnya."

Takut Rugi (Fear of Loss)

   "Waduh, kalau saya bisnis kemudian rugi bagaimana nasib keluarga saya? Mau makan apa nanti?"
He..he... agak lebay (berlebihan) sih, tapi banyak lho yang gitu. Pernah lihat cicak yang ada di dinding, kan? Nah, kalo ditanya cicak makannya apa, hayo? Yang pernah ke kebun binatang pasti tahu. Jawabnya tentu saja nyamuk. Ini nih, ajaibnya. Cicak yang tidak memiliki sayap sekaligus tidak bisa terbang saja makanannya nyamuk yang punya sayap dan bisa terbang. Hebatnya lagi, tidak pernah tiba-tiba di koran muncul berita menghebohkan cicak mati berjamaah karena kelaparan, soalnya gagal nangkepin nyamuk. Tanda kekuasaan Allah SWT, nih, bahwasanya semua makhluk hidup itu sudah disediakan rezekinya (termasuk makan) masing-masing disertai perlengkapan untuk "menjemputnya". Jadi, jangan kuatir! Rezeki kita ini sudah dikapling oleh Allah, tinggal dijemput saja. Masalah besar kecilnya itu semua bergantung pada usaha kita menjemputnya.

Takut Malu-maluin (Afraid to be Sheepish)

   "Saya kan pelajar/mahasiswa. Terus kalau jualan, apa kata dunia?" Waduh, mau jualan saja, kok dunia dibawa-bawa? Kasian, capek nanti, kan dunianya berat banget. Jualan untuk usaha itu tidak ada kamusnya "berjualan itu memalukan", karena ini kerjaan halal. Kita harus bangga lho, karena tidak semua teman seusia kita mau dan berani berjualan. Yang paling memalukan itu kalau kita masih betah nodong orang tua untuk minta subsidi. Kalo cuman itu, adik bayi juga bisa. Tidak ada kerennya sama sekali. Oke, Bro and Sis, mulai sekarang Say yes to Business!.


   Nah, biar kamu-kamu semakin mantap, sebenarnya ada rahasia terpendam tentang nikmatnya menjadi pengusaha, rahasia khusus bagi para BiNet (Selamat! Selamat!).
Yuk, kita kupas satu per satu!

Nikmat Pertama:

   Terbuka Lebar Jadi Orang Kaya
   Kalau kita sebut nama Bill Gate (bos Microsoft) atau Warren Buffet (investor kelas wahid), dan Abu Rizal Bakrie, apa kesamaan diantara mereka, hayo??? Yup, mereka adalah orang-orang yang mencatatkan dirinya sebagai orang terkaya di dunia (Bill Gates dan Warren Buffet bergantian posisi untuk posisi ini dari tahun ke tahun, sedangkan Abu Rizal Bakrie sebagai orang terkaya di Indonesia). Apa lagi kesamaan mereka??? Ya, Benul (benar + betul) sekali. Mereka sama-sama pengusaha. Yang mencengangkan lagi, berdasarkan hasil survei salah satu majalah internasional yang rutin membuat ranking 100 orang-orang terkaya di dunia (mudah-mudahan suatu saat kita bisa nangkring di sana, Aamiin), 99% yang rutin menempati posisi pertama sampai seratus adalah mereka yang punya profesi sebagai pengusaha. Lihatlah, Kawan, hanya menjadi pengusahalah kesempatan menjadi orang kaya terbuka lebar bagi siapa saja, tidak peduli kita berasal dari mana (mau dari Chicago ataupun Cianjur), kita dari keturunan siapa (keturunan ningrat ataupun sudah tujuh turunan melarat), seberapa tinggi pendidikan kita (mau lulusan S3 atau SD saja tidak lulus-lulus), dan yang paling penting tidak peduli berapa pun usia kita (mau sudah berumur atau masih nyolong umur untuk buat KTP sekalipun), asal kita mau berusaha (namanya juga berusaha) semuanya bisa jadi orang kaya.

Nikmat Kedua:

   Jadi Pahlawan, Bukan Jadi Biang Kerok
   Coba perhatikan, kalau ada event penerimaan tenaga kerja masal oleh perusahaan-perusahaan (bahasa kerennya job fair), yang namanya antrian pelamar kerja pasti "mengular" tidak bisa dibedakan dengan ibu-ibu rumah tangga ketika mengantri minyak tanah (saat langka-langkanya) ataupun antrian saat pembagian zakat fitrah. Tidak heran, sih, karena berdasarkan data statistik kependudukan, total pengangguran nasional sekitar 40 juta jiwa dan hebatnya 2.6 juta jiwa disumbangkan dari saudara-saudara kita yang sarjana. Jumlah ini akan naik terus setiap tahunnya seiring diwisudanya sarjana-sarjana dan diluluskannya anak SMU. Jadi, jangan bangga dulu kalau lulus (teman-teman SMU yang hobinya corat-coret baju, sarjana-sarjana yang hobinya melempar topi ke atas), tapi setelah itu nambah daftar orang nganggur di Indonesia. Cuman ada satu solusinya, Kawan. Apakah itu? Jadilah pengusaha. Karena dengan punya usaha sendiri, minimal kita sudah mengurangi satu pengangguran di Indonesia, yaitu diri kita. Lebih keren lagi kalau usaha kita maju dan mampu membuka kesempatan kerja bagi teman-teman kita, saudara-saudara kita, bahkan orang yang tidak kita kenal. Ini baru layak disebut "pahlawan" karena menjadi solusi.

Nikmat Ketiga:

   Peluang Masuk Surga Lebih Besar
   Kata teman yang kebetulan berprofesi sebagai ustadz, salah satu ciri penghuni surga adalah sering didoakan yang baik-baik oleh banyak orang karena keberadaannya dapat dirasakan manfaatnya. Nah, salah satu profesi yang memenuhi syarat untuk itu, ya, jadi pengusaha. Mau bukti, Hayo Kang! Katakanlah sebagai pengusaha kita punya lima orang karyawan. Pertanyaannya, siapa yang sering mendoakan agar si karyawan ini dapat rezeki banyak, hayo? Yup, minimal yang mendoakan adalah si karyawan itu sendiri dan ibu bapaknya di rumah. Kalau si karyawan bedoa agar rezeqinya lancar, maka perusahaan tempat ia bekerja juga otomatis didoakan terus berkembang agar bisa memberikan gaji yang gede. Maka, kita sebagai pemilik usaha juga otomatis didoakan terus berkembang dan istiqomah agar senantiasa menjadi "keran" rezeqi dari Tuhan bagi karyawan kita. Hitungan matematisnya, kalo karyawan kita lima orang dan sudah menikah, maka yang mendoakan kita sebanyak 5 x (1 orang karyawan + 2 orang tua kandung + 1 istri + 1 anak + 2 orang tua mertua) = 35 orang. Coba bayangkan, kalo karyawan kita puluha, ratusan, bahkan ribuan, maka berapa banyak orang yang mendoakan kita (kebayang kan banyaknya)? Karena itu, ada pepatah dalam dunia usaha "banyak karyawan banyak rezeqi". Sudah kebayang kan penghuni surga yang akan menyambut kita (terutama mbak-mbak bidadari, heheh)?

Nikmat Keempat:

   Bisa Masuk TV!
   Salah satu impian kebanyakan anak muda adalah dikenal banyak orang. Cara yang paling cepat, ya, masuk TV, radio, koran, dan media massa yang lain. Tidak perlu sedih kalau wajah kita pas-pasan sehingga tidak lolos audisi artis, ataupun belum cukup umur untuk menjadi pejabat sehingga tidak bisa masuk TV. Tenang, friends! Masih ada kesempatan, mau??? Jadilah pengusaha! Coba lihat, di tipi-tipi (TV) banyak pengusaha yang diliput oleh stasiun televisi, sebut saja Anggodo (jangan ditiru ya, ini contoh yang nggak keren), Abu Rizal Bakrie (orang terkaya di Indonesia), Sandiago Uno (pengusaha batu bara), Hendi Setiono (pengusaha muda berprestasi), dan masih banyak yang lainnya. Ingat kawan, masih ada kesempatan untuk sebarkan kebaikan via media massa.

Nikmat Kelima:

   Hidup Pas-pasan
  "Wuihh, cakep banget artisnya. Seandainya dia mau jadi pendamping hidupku." Punya impian seperti itu, jangan terburu-buru patah semangat, Bro and Sis. Masih ada kesempatan!!! Gimana caranya??? Gampang, cukup dua kata : Jadi Pengusaha. Coba kita tengok layar kaca. Tunggu saja berita-berita selebritis yang ada. Coba deh perhatikan, hanya pengusaha yang dilirik sang artis saja yang dijadikan pendamping hidupnya selain sesama artis tentunya. Karena ada satu prinsip hidup pengusaha yang cocok dengan sang artis, yaitu selalu hidup dalam keadaan "pas-pasan". Pas mau beli mobil bisa, pas mau beli rumah bisa, pas mau refreshing bisa, pas mau naik haji bisa, dan pas-pas yang lain In Syaa Allah dijamin bisa, hehehe. Tapi, itu pilihan. Kalau mau cari pasangan hidup yang non-selebritis juga bisa, karena prinsip hidup "pas-pasan" sang pengusaha juga diminati oleh semua kalangan. Berminat?? Silahkan buktikan sendiri. Pas mau nikah, ada modalnya.

Nikmat Keenam:

   Obat Awet Muda
   Pernah mendengar macam-macam kecerdasan manusia, yaitu IO (kecerdasan intelektual), EQ (kecerdasan emosional), dan SQ (kecerdasan spiritual)? Jadi pengusaha bisa membuat kita melatih semua kecerdasan dengan terus-menerus, lho. Saat mulai usaha, kita "dipaksa" untuk belajar jualan barang, pencatatan keuangan, ngatur karyawan, dan ahrus terus memikirkan inovasi produk. Tanpa sadar, kecerdasan intelektual kita terus diasah. Jika usaha sudah berjalan, kita "dituntut" untuk merawat costumer yang beragam. Ada yang hobinya komplain, belum lagi merawat karyawan yang mintanya gaji tinggi tapi kinerja tidak maksimal, ditambah dengan hasil penjualan yang tidak sesuai dengan target yang semuanya membutuhkan pengelolaan emosional yang cerdas. Selama menjalankan usaha, tidak ada seorang pun yang menjamin berapa omset yan kita peroleh hari ini, berapa pembeli yang datang, dan keberlangsungan mesin-mesin produksi. Hal ini mengakibatkan sikap pasrah yang luar biasa kepada Allah Sang Maha Penentu hasil. Efeknya, sang pengusaha sangat khusyuk beribadah karena yang "di-request" buanyak bengget (banyak sekali) saat berdoa. Saat-saat seperti inilah kecerdasan spiritual akan terus dipertajam. Berdasarkan penelitian para ahli jiwa, jika IQ, EQ, dan SQ seimbang dalam hidup, maka gejala-gejala ketuaan seperti kepikunan, In Syaa Allah bisa dihindari. Inilah yang menyebabkan sang maestro usaha Indonesia di usia tua, seperti Bob Sadino ataupun Ciputra, tetap energik dan selalu memberikan manfaat.


   Demikian artikel penyemangat pemuda dunia untuk bersukses ria! Yang berjudul Bab 1 | Ngapain Usaha??? Berat, Kamu Tak Akan Kuat!. Semoga menjadi pemacu dan sangu (baca: bekal) untuk meraih kesuksesan dimasa mendatang.

No comments:

Post a Comment