Mengumpulan Uang demi Modal - Birru . Net

Mengumpulan Uang demi Modal

Share This
   Kalau ingin usahanya tambah gede, maka mau tidak mau kita harus bersentuhan dengan duit sebagai modal kerja dan usaha. Jangan mengkerut dulu dong kalau dengar modal duit. Soalnya banyak sumber-sumber duit yang siap mengalir kalau kita tahu tempatnya dan tahu cara menyalurkannya. Ssst, ini rahasia khusus buat kita-kita saja, ya... Sumber duit itu ada di:

1. Mengatur Uang Saku

   Uang saku??? Siapa yang tidak doyan dengan uang satu ini? Uangnya riil dan tidak membutuhkan tenaga ekstra untuk mendapatkannya karena memang sifatnya pemberian cuma-cuma. Makanya, tidak heran dari anak TK, SD, sampai om dan tante pejabat dan wakil rakyat juga doyan. Namanya juga gratis. Buat kita-kita yang sumber kekayaan pribadinya masih dari uang saku doang (soalnya yang lain masih meminjam orang tua) perlu pintar-pintar mengaturnya, nih (tapi disarankan banget untuk segera bertaubat dan update status dari penerima uang saku menjadi pemberi uang saku). Bagi calon pengusaha muda, mikirnya kudu gimana caranya uang saku bisa dipakai menambah modal usaha. Emangnya bisa??? Ya, bisa dong! Begini caranya.

   Sadar Diri 

   Kita harus menyadari sejak awal kalau uang saku yang diberikan orang tua bukan bim salabim 'tiba-tiba ada' atau turun langsung dari langit pakai parasut. Orang tua kita banting tulang dan kerja keras mencari uang satu bulan penuh untuk mendapatkan ini. Belum lagi pengorbanan bapakkita yang mungkin bela-belain tidak membeli sepatu atau baju kerja yang baru padahal yang lama sudah terlalu usang hanya untuk mencukupi uang saku kita. Belum lagi ibu kita yang harus memeras otak mengatur belanja rumah agar cukup sebulan, ditambah lagi memilih mengurangi beli bedak, baju, bahkan barang yang diingini demi kita, anaknya. Kebayang kan pengorbanan orang tua kita, meskipun anaknya ini jarang bahkan tidak pernah berusaha menyenangkan mereka, minimal bilang terima kasih saja tidak pernah. Nah, Kawan, mumpung belum terlambat kalau orang tua masih ada, buruan deh cium tangan mereka dan bilang, "Terima kasih." Terus doakan orang tua kita agar diberi kesabaran dan diberi kemudahan dalam mencari rezeki yang halal. Kalau yang orang tuanya sudah meninggal, doakan mudah-mudahan semua amal baiknya menjadi kemudahan masuk surganya Allah.

   Menyusun Kebutuhan, Bukan Keinginan, Lho! 

   Biasakan semua pengeluaran kudu di-planning sejak awal berdasarkan kebutuhan lho, bukan keinginan. Emang, apa bedanya??? Jelas beda, dong. Yang namanya kebutuhan manusa itu ada batasnya sesuai dengan umur/tingkat pendidikan, misalnya kebutuhan transportasi, uang sekolah, beli buku pelajaran, pulsa, dan sebagainya. Sedangkan keinginan sebaliknya, tidak ada batasnya, misal ingin membeli handphone keluaran terbaru, ingin baju baru, ingin tas baru, dan ingin-ingin yang tidak jelas lainnya, jangan lupa untuk memasukan kebutuhan nabung, ya. Setelah itu, semua ditotal, deh...

   Nego dengan Orang Tua 

   Nah, kalau sudah diketahui jumlahnya, ajukan deh ke orang tua. Jelaskan pos kebutuhannya lengkap dengan alasannya. Jangan lupa bicarakan juga waktu memberi uang saku, harian, mingguan, atau bulanan. Yang paling mantap memang bulanan karena kita jadi terlatih bertanggung jawab untuk mengatur sendiri. Tapi perlu diingat, yang memutuskan tetap orang tua. Mengenai jumlah plus waktu mengasihnya itu semua pasti menyesuaikan dengan kebutuhan rumah yang lain. Kita mesti erima dan tetap bersyukur. Jangan sedih kalau memang kurang. Waktunya kreativitas dimainkan, puter otek mencari tambahan, dong. Namanya juga pengusaha. Iya, kan?

   Biasakan Ditabung 

   Buka rekening di bank atas nama sendiri sangat melatih kita untuk terbiasa menabung. Minimal uang yang ada tidak tercecer di dompet dan di kantong karena gawat bisa-bisa tidak terasa mengeluarkan uang terus untuk kebutuhan yang tidak jelas, terus akhirnya baru sadar ketika habis.

   Hemat, Dong! 

  Hemat pangkal kaya, itu benar, lho. Bukan hanya slogan saja. Pengusaha sukses selalu menerapkan hal yang sama dalam bisnisnya dengan istilah efisiensi. Prinsipnya mudah. Beli yang memang dibutuhkan kemudian cari cara yang paling sedikit mengeluarkan biaya tapi fungsi dan tujuannnya tetap sapat. Misalnya, kalau biasanya jajan di kantin sekolah, coba deh, mulai sekarang bawa bontot 'bekal' dari rumah. Selain hemat juga sehat karena kita tahu bahan-bahan dan cara membuatnya. Contoh yang kedua, kalau biasanya ke sekolah atau kuliah naik motor sendirian, coba mencari teman yang sejalur kemudian janjian untuk pergi-pulang bareng, terus uang bensinnya dibagi dua. Wuih, hemat banget, kan?

   Kudu Disiplin! 

   Perencanaan sehebat apa pun tidak akan ada hasilnya kalau tidak ada action. Action yang dahsyat sekalipun tidak akan berefek kalau hanya bertahan sehari, dua hari, kemudian kembali ke "fitrahnya" jadi semau gue lagi. Ya, kuncinya semua kudu disiplin dan sabar. Awalnya pasti aneh banget dan yang pasti tersiksa. Biasanya kalau mau beli barang pas ada uang di dompet langsung disamber. Nah, sekarang kudu liha catatan belanja bulanan dulu baru memutuskan beli apa tidak. Tapi, percaya deh efeknya sangat terasa ketika kita jadi pengusaha. Kita jadi terbiasa lebih produktif mengatur uang. Cara yang paling efektif agar disiplin adalah minta tolong orang lain, biasa saudara, teman, atau orang tua, untuk menjadi "satpam" yang menegur kita kalau keluar jalur dan selalu minta evaluasi keuangan diakhir bulannya. Ngitung-ngitung belajar diaudit sama KPK.

2. Tabungan Kita 

   Yap, tabungan kita adalah harta karun kita. Kalau belum punya tabungan atau dari dulu sudah berjuang usaha sampai titik keringat yang terakhir tapi tidak berhasil juga untuk menabung, nih, ada sedikit tips biar sukses menabung.

   Buka Rekening Tabungan Bank Sendiri 

   Cara ini aman dibandingkan menyimpan uang di bawah bantal, karena yang menjaga uang kita adalah orang bank. Kita mudah untuk mengecek jumlah terbaru plus membiasakan kita memasukan uang secara teratur. Paling mantap kalau tidak ada ATM-nya, biar rada awet saldonya.

   Menentukan Tujuan Menabung dan Target Jumlah 

   Biar lebih semangat, tentukan apa tujuan kita menabung. Karena yang menabung calon pengusaha muda kaya, tentunya tujuan menabung untuk modal usaha, dong. Jangan lupa tentukan juga target jumlah yang harus terkumpul berapa, baru boleh diambil.

   Hitung-hitungan Pemasukan dan Pengeluaran Bulanan 

   Nah, ini bedanya anak muda biasa dengan pengusaha muda. Kalau anak muda biasa hidupnya mengalir saja, termasuk pengeluaran bulanannya. Kalau pas ada uang langsung beli barang yang diinginkan tanpa direncanakan. Beda dengan pengusaha muda, selalu membuat rencana pendapatan dan pengeluaran bulanan. Coba tuliskan lagi kebutuhan sebulan apa saja, misalnya uang transportasi, pulsa, makan plus jajan, beli buku plus ikut seminar, dan sebagainya sesuai kebiasaan selama ini, terus dijumlahkan. Kemudia tuliskan juga sumber pendapatan bulanan kita, misalnya subsidi bulanan dari orang tua (yang masih senang menerima, semoga bertaubat, ya...), fee penulis buku, fee trainer, dan sebagainya. Pendapatan itu dijumlahkan juga terus bandingkan antara pemasukan dan pengeluaran. Kalau ada lebihan berarti selamat anda masih mempunyai dana untuk ditabung. Kalai impas (sama) atau lebih gede pengeluaran, wah, gawattt siaga satu, nih. Solusi pertama, segera memutar otak mencari penghasilan tambahan atau yang kedua kurangi pengeluaran yang tidak perlu.

   Potong Pos buat Nabung Sejak Awal Bulan atau Setiap Menerima Keuntungan Penjualan

   Biasanya kita paling senang kalau menabung uang sisa bulanan. Kalau ada sisa, ya, ditabung. Kalau tidak ada, ya tidak nabung. Efeknya, pos tabungan setiap bulannya naik turun tidak karu-karuan. Celakanya, lebih banyak turunnya bahkan tidak nabung. Nah, mulai saat ini masukkan pos nabung sebagai pengeluaran, motongnya di awal bulan bukan akhir bulan. Kalau tidak bisa begitu, maka boleh nyicil. Setiap terjadi transaksi penjualan barang yang kamu jual bisa kamu sisihkan 5-10%, misalnya untuk ditabung. Sediakan kotak khusus untuk menyisihkannya sehingga pada awal bulan depan sudah siap untuk dibawa ke bank. Untuk besaran potongan buat pos nabung, terserah masing-masing. Pada umumnya 30% dari pendapatan. Tapi kalau takut shock di awal-awal karena terlalu gede, maka perlahan-lahan saja. Bisa memulai dari 10% kemudian meningkat terus hingga 30% juga tidak apa-apa. Yang penting membiasakan menyisihkan uang untuk ditabung.

    3. Jadi Para Pencari Koin  

    Kalau lagi ada atmosfer menabung, jangan menyepelekan uang sekecil apa pun, bahkan uang receh sekalipun harus diamankan. Kalau pas ada kembalian uang receh, atau uang receh yang berceceran di kamar (di kamar sendiri lho, bukan kamarnya orang lain!!!), segera masukkan ke celengan. Kalau sudah penuh baru dipecah atau dibuka terus tabung ke bank.

   4. Dana Hibah atau Dana Pemberian

   Dana ini diberikan tanpa ditentukan kapan harus mengembalikan karena sifatnya mengarah ke sosial. Jika sudah ada kemampuan mengembalikan, maka wajib untuk dikembalikan karena digunakan bergantian dengan usaha yang lain. Istilah kerennya dana bergulir. Dana ini biasa dikeluarkan oleh lembaga sosial ataupun foundation perusahaan besar, terutama BUMN sebagai dana CSR (Coorporate Social Responsibility).

   5. Gandeng Orang Berduit

    Selain tabungan kita sendiri, masih ada jalur lain untuk mendapatkan modaluang. Kita bisa kerja sama dengan orang lain yang mempunyai kelebihan uang sebagai pemodal dan kita yang mengelola uangnya untuk menjadi usaha yang menguntungkan. Ada beberapa sistem kerja sama yang biasa dipakai.

   Pinjaman "Plus-plus" 

   Pinjaman ini hampir sama dengan pinjaman murni. Mengenai mekanisme pengembaliannya bisa secara cash ataupun diangsur dalam jangka waktu tertentu. Bedanya, model kerja sama ini menambahkan variabel bunga atau bagi hasil yang telah ditetapkan dalam jumlah uang yang harus dikembalikan. Pada model kerja sama ini, ada yang berpendapat diperbolehkan, tapi ada juga yang berpendapat wajib "dipertimbangkan". (Silahkan diperkaya dengan mencari referensi). Model kerja sama ini biasanya dikeluarkan oleh lembaga perbankan.

   Investasi Murni 

   Pada tipe kerja sama ini, sang pemilik modal memperoleh bagi hasil sebesar prosentase yang disepakati pada awal setiap keuntungan diperoleh. Waktu pembagiannya bisa dilakukan tiap bulanan, enam bulanan, tahunan, ataupun per proyek jika usaha basic-nya proyek sesuai dengan kesepakatan. Karena bagi hasil, jika usaha tidak mendapat keuntungan, maka sang investor tidak mendapatkan apa-apa. Yang pasti kredibilitas kita sebagai pengusaha yang bisa mengelola usaha menguntungkan dipertaruhkan di sini. Tentang jangka waktu pengembalian tidak terlalu dibahas karena biasanya waktunya panjang, bahkan selamanya selama usaha ini masih berjalan. Yang menarik, modal yang dipakai kadang tidak terbatas. Sang pemilik modal tidak keberatan karena biasanya langsung dikonversikan dengan saham kepemilikan perusahaan.



   Huft, akhirnya tulisan ini selesai,  Bab 5 | Mengumpulkan Uang demi Modal. Semoga menambah kesemangatan ber-usaha-ria para kawula muda!
 Semangat 45!

No comments:

Post a Comment